26th Jul

2018

Tahun Politik vs Revolusi Mental

Inovator Pendidikan & Agama Terapan, Direktur RS Puri Husada Yogyakarta

Pemerintahan Presiden Jokowi telah mencanangkan revolusi mental yang berorientasi jati diri, etos kerja, kegotongroyongan; yang belum di evaluasi secara intensif. Tahun politik 2018-2019 ini justru akan menjadi ujian mentalitas bangsa yang taruhannya sangat besar bagi perjalanan reformasi NKRI.

 

Situasi saat ini

OTT KPK terhadap pejabat, Anggota DPR terhormat masih marak berlangsung. Anehnya usulan KPK untuk melarang calon pejabat “koruptor” mengikuti Pilkada, ditolak; yang ternyata ada yang terpilih. Disisi lain masih ada upaya pelemahan KPK. Ditahun politik ini pertarungan perebutan kekuasaan egoisme golongan cenderung keras dan kasar; saling menyalahkan bahkan elite politik oposisi cenderung menyalahkan, mencela, tidak menghormati, tidak menghargai apapun yang dikerjakan pemerintah Jokowi, pemerintah dan presiden NKRI. Sebagai ilustratif debat kusir (berebut penumpang) tendensius masalah 51% Freeport. Ironisnya masing-masing di dukung oleh akademisi doktor professor. Padahal yang dikerjakan pemerintah dan KPK adalah proses terobosan inovatif solusi maksimal dari situasi carut marut dengan asas solusi “benar-tepat kontekstual (bener pener migunani)” ; itu pun selalu di bantah, disudutkan dengan argumen yang di bungkus idealisme holistik normatif justru untuk menyerang kronologi carut marutnya yang terjadi. Masih di tambah kata-kata ekspresi arogansi kurang menghirmati presiden, pemerintah sebagai simbol negara. Forum TV adalah media pendidikan masyarakat umum; sangatlah berbahaya apabila berisi tayangan munafik dari figur bangsa. Hal-hal ini lah yang meresahkan membahayakan kelangsungan perjalanan reformasi pembangunan bangsa yang secara monumental akan melewati tonggak sejarah pendidikan politik PilPres 2019. Saat inilah diperlukan re-orientasi, revitalisasi Gerakan Revolusi Mental yang secara nalar semestinya semua setuju tanpa perdebatan; namun cukup konstruktif kalau LC TV One mengangkat tema “Revolusi Mental menyelamatkan Tahun Politik”.

Revolusi mental sebagai gerakan pendidikan karakter meliputi tahap knowing, feeling, actualization (ngerti, ngroso, nglakoni). Ironis kalau revolusi mental belum dimengerti atau dipahami bahkan acuh tidak mau tahu; padahal mengerti suatu masalah merupakan langkah penting mendasar penyelesaiannya.

 

Pengertian Jati Diri

Manusia diciptakan Allah dengan jati diri mulia, sesuai citra karakter Allah untuk bekerja memelihara dan melanjutkan karya penciptaan Allah di dunia. Inilah yang sekaligus menjadi tujuan mulia hidup manusia secara mandiri dan di dalam kebersamaan; sebagai kalifah ciptaan – ciptaan lain. Tepatlah pitutur nenek moyang hidup “mung mampir ngombe” hanya sebentar akseleratif menuju dunia baru yang dijanjikan dan disediakan Allah. Tempat mampir ngombe utama adalah keluarga, sekolah, tempat kerja, lingkungan bermasyarakat berbangsa bernegara. Disinilah perintah Allah dinyatakan “beranak cuculah dan bekerjalah, kuasailah dunia”.Tempat-tempat tersebut secara interaktif menjadi tempat penggemblengan, mensucikan diri; karena disitu Allah sekaligus mengizinkan iblis menggoda; antara lain lewat 3 Ta “wanita-seks, tahta-kekuasaan, harta-uang”. Ekstrimnya ketertarikan antar jenis nafsu birahi pada hakekatnya adalah sakral untuk memacu pengembangan diri dan prestasi demi sekolah, keluarga dan pekerjaan. Imajinasi kenikmatan hubungan suami istri adalah sakral sebagai daya tarik dan sarana bonus kerjasama tanggung jawab penciptaan manusia baru, suka duka pengasuhan anak mencukupkan kebutuhan keluarga yang selalu dihubungkan dengan pekerjaan dari generasi ke generasi; jati diri manusia bertanggung jawab atas meningkatnya mutu generasi termasuk generasi tumbuhan dan hewan. Yakinlah Allah selalu hadir “ikut” bekerja sekaligus ikut menyelesaikan masalah; asalkan kita menyatu denganNya.

Manusia adalah insan mulia sehingga pekerjaan yang melayani kebutuhan manusia apalagi rakyat banyak adalah profesi mulia; Pejabat, anggota DPR wakil rakyat adalah mulia; Namun ini (hanyalah) kata dunia; yang sebenarnya bermakna amanah tanggung jawab. “wang sinawang” karena yang “disawang” Allah adalah ketulusan hati afeksi rasa syukur kita. Profesi apapun adalah mulia dihadapan Allah sebagai panggilan anugerah dan perutusan Allah dalam kebersamaan mengelola dunia yang kompleks ini. Semuanya diyakini dalam kendali kasih kuasa Allah. Bijaksanalah orang yang ingat, merindukan kematian menuju “dunia baru” kembali ke Allah dengan huznul khotimah.

Di dalam hal ini jati diri manusia bermakna menyadari kemuliaan tersebut dan menerimanya dengan kerendahan hati, lemah lembut, memiliki rasa malu/menyesal/bertobat disaat berbuat salah; untuk hidup ke depan lebih baik.

 

Pengertian Etos Kerja

Revolusi mental etos kerja dimaksudkan sebagai inspirasi motivasi semangat kerja yang bersumber jati diri dan tugas mulia. Secara Ilahi Allah memberikan perintah “kasihilah Allah-sesama-dirimu (secara sama, seimbang, menyatu) dengan segenap akal budi kekuatanmu”. Bahkan resep SOPnya “kasihilah sesama seperti mengasihi diri atau mengasihi diri seperti mengasihi sesama”; Allah sebagai penyemangat, kekuatan dan sumber kasihNya. Di dalam konteks ini secara filosofis tempat kerja adalah tempat suci atau pensucian diri sekaligus mengumpulkan amal ibadah. Ironis kalau saat ini mengasihi diri cenderung menjadi jatuh cinta terhadap diri sendiri, egois mengejar kenikmatan kesenangan diri sampai serakah merampas hak sesama; makna mulia istilah “sesama” menjadi “orang, SARA lain”; etos kerja “melayani menjadi dilayani, bermanfaat bagi sesama menjadi bagi diri sendiri, halleluya menjadi hallelupa, Ketuhanan YME menjadi Keuangan YME”. Secara firmani harus disadari bahwa etos kerja tertinggi adalah mendapatkan “suka cita damai sejahtera, tentrem bersyukur merasa cukup dalam segala hal” diatas “kebahagiaan yang masih dipengaruhi aspek duniawi apalagi kesenangan yang sifatnya duniawi sesaat”.

 

 Pengertian Etos Gotong Royong

Secara kodrati manusia adalah mahkluk sosial yang membutuhkan kerjasama saling tolong menolong, saling melengkapi sebagai khalifah dunia yang kompleks. Gotong royong berarti menggotong penyelesaian masalah secara tanggung jawab royong kemandirian dalam kebersamaan. Hal ini penting karena mental gotong royong merupakan ujung tombak dalam memelihara, meningkatkan, melanjutkan karya penciptaan Allah implementatif jati diri dan etos kerja. Tanpa gotong royong ibaratnya 1+1=0.5, dengan gotong royong negoisasi menjadi 1.5, dengan gotong royong sinergis kolaboratif menjadi 2 bahkan sampai tak terukur. Ironis kalau budaya gotong royong dari tingkat paling bawah sampai elite sektoral dan lintas sektoral cenderung memudar bahkan di tahun politik ini semakin berantakan. Dengan revolusi mental gotong royong yang berorientasi kasih dan kemuliaan jati diri sekaligus bermakna mudah saling mengakui salah, saling mengampuni untuk lebih di berkati maju ke depan. Betapa indahnya kalau para elite berproses bergotong royong menuju pendidikan politik Pilpres 2019 demi NKRI ini. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Last but not least, sesuai rencana Allah “marilah kita bergotong royong mengumpulkan amal ibadah dan kasih kuasaNya untuk bersama-sama menuju ke dunia baru surgawi…Amin.

By : JB Soebroto

Share This :

No comments so far!

Leave a Comment

Your email address will not be published.

happy wheels