4th Dec

2015

Gerakan Nasional Revolusi Mental
  1. Soebroto

Dalam rangkaian Dies Natalis ke – 66 UGM, hari ini Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menyampaikan Orasi Gerakan Revolusi Mental Nasional. Acara yang sangat penting dan karena UGM sebagai Universitas Budaya Kerakyatan tentu menindaklanjutinya, agar betul-betul Implementatif merakyat dan membudaya.

Alur Pikir Kedokteran

Kalau alur pikir kedokteran (gejala– penyebab utama – solusi – pengobatan kausal) jamannya dokter Budi Utomo telah memutuskan “Kemerdekaan hanya bisa dicapai dengan persatuan perjuangan Nasional”; maka revolusi mental perlu di dukung pemahaman bagian mana (dari manusia/bangsa) yang sakit, faktor-faktor penyebabnya, patomekanismenya, Ibaratnya penyakit kanker perlu diamati dengan mikroskop. Kalau computer mengenal hardware dan software dengan virus software yang direkayasa menjadi kejahatan Cybercreme yang dahsyat seperti kanker, ibaratnya manusia juga “tersusun atas” hardware dan software? Bukankah target revolusi mental juga bersifat pencegahan, kuratif, rehabilitatif dengan sasaran intrinsik terukur berkesinambungan lintas jaman.

Entitas Manusia

Manusia harus sadar bahwa dirinya tersusun intregatif atas: 1) raga organ tubuh spesial bahkan memiliki dua hati organik dan afektif perasaan; 2) jiwa kepribadian sebagai daya hidup; 3) roch spiritualitas relator Sang Khalik. Setiap manusia dilahirkan dengan variasi kombinasi kepribadian yang berbeda-beda (kolerik–sanguistik–plegmatik-melankolik, teoritis–fragmatis, introvet–ekstrovet, perfect–easy going) yang masing-masing tidak sempurna namun tidak jahat; karena Allah menciptakan manusia tidak ada yang sempurna, namun semua dalam rencana yang baik yakni “diberkati dalam kebenaran keadilan untuk bekerja memelihara dan menguasai dunia/uang (bukan sebaliknya), beranak cucu dalam damai sejahtera di bumi menyempurnakan diri sampai akhir hayat untuk kembali bahagia abadi ke pangkuanNya. Inilah hakekat tujuan jati diri hidup yang harus disadari dan dijaga kesuciannya untuk diselamatkan dari hukum neraka. Allah mencintai hidup (rochani) dan memelihara dalam karya keselamatan lewat firman-firmanNya; yang dalam hal ini sekaligus memang mengijinkan kelicikan tipu daya iblis sebagai godaan cobaan ujian. Roh jahat inilah yang justru tanpa di sadari menjadi musuh atau sebaliknya menjadi sahabat (yang tak kelihatan namun sangat berbahaya) bagi hati manusia; yang hanya bisa di lawan dengan Roch Allah. Di dalam pergulatan kesadaran hidup (melawan musuh yang kelihatan dan tak kelihatan) inilah manusia harus berusaha, bekerjasama saling menyempurnakan diri (bukan saling menjatuhkan) sesuai talenta profesionalnya dalam dinamika maju mundurnya siklus tahap perkembangan jiwa fase oral– anal – sexsual; struktur kepribadian mental id – ego – super ego ; kendali aktivitas mental concious – unconcious; tahap – tahap akselarasi adaptasi peradaban berbagai perilaku pola hidup sepanjang hayat. Proses perjalanan pergulatan menuju kesempurnaan hidup mencapai “value dan norma hidup” optimal secara utuh roch jiwa raga inilah yang disebut pendidikan karakter (karakterisasi / internalisasi); karakter berasal dari kata qaracy yang artinya mengukir diri (tidak sekedar melukis), menanam, membudidayakan menjadi gaya hidup yang menghasilkan mental / watak jati diri setiap manusia yang mewujud lewat budi pekertinya, mindset hati nurani pola pikir, perkataan, perbuatan, perilaku yang berbuah etos militansi kerja ibadah soft skill (“soft ware”). Kita bersyukur telah memiliki sila Ketuhanan YME sebagai pintu karya kesucian dan keselamatan Allah dan saat ini menyadari bahwa latar belakang perusakan “soft ware” tersebut adalah mental beragama, berfilosofi, berbudaya, berpolitik, berhukum, berUndang Undang, berkomunitas sosial, yang cukup parah sehingga di sepakati solusi GNRM yang fokus kedisiplinan, kejujuran, etos, gotong royong. Selamat berdiskusi mulia para pakar UGM di bidang Agama, Filsafat, Psikologi, Psikiatri, Budaya Sejarah, Hukum, Sosial Politik, Studi Pancasila, Kajian Korupsi untuk menganalisis dan merumuskan konseptual tekstual kontekstual yang komprehensif terukur tepat sasaran implementatif sustainable sebagai “ kurikulum” revolusi mental dari pendidikan karakter yang “bermental”. Semoga artikel ini bermanfaat sebagai pengantar diskusi sekaligus meningkatkan semangat Dies ke – 66 UGM untuk merealisasikan program “berakal kuat, menjulang tinggi“ dalam mengabdikan dan mengabadikan dharma baktinya!

Penulis : Dosen Agama Kedokteran Tim Panitia Dies Ke 66 UGM Direktur RS Puri Husada, CSR Pendidikan Karakter Out Bound Banyu Sumilir.

 

 

 

Share This :

No comments so far!

Leave a Comment

Your email address will not be published.

happy wheels